Belajar di Pakistan
Belajar di luar negeri termasuk hal yang membanggakan. Termasuk di Negeri Ali Jinnah ini. Tentunya, tidak karena Pakistan adalah negara bernuklir, tapi, selain suasana belajar memang mendukung, juga penguasaan dua Bahasa Arab dan Inggris membuatnya jadi pilihan dari banyak kalangan.
Belajar di luar negeri, tidak hanya di Pakistan, akan sangat lebih digandrungi bila keadaan alam sekitar juga bersahabat. Terjaminnya keamanan, bersihnya lingkungan, tidak adanya konflik horizontal serta terjaganya relasi yang baik antara pendatang (foreigner) dengan penduduk pribumi.
Namun sayang, Pakistan, untuk dikatakan telah memenuhi kriteria “layak digandrungi” tadi –berdasarkan syarat di atas– rasanya masih dipertanyakan. Yang paling mencolok adalah masih rentannya konflik horizontal antara penduduk lokal yang kerap kita temui.
Pada 27 Mei lalu, di tempat yang (konon) dikeramatkan, Bari Imam, kita dengar suicide blast yang menewaskan setidaknya 20 orang –ada yang mengatakan lebih- dan menyebabkan sekitar 100 orang luka-luka. Juga di Karachi, belum lama ini terjadi pembakaran toko KFC yang menyisakan 7 orang meninggal. Selain itu, tak terhitung kejadian serupa masih menghiasi negeri perantauan ini.
Motif kejadian tersebut pun berlainan. Politik, ekonomi, balas dendam dst. Namun, yang paling kerap kita saksikan adalah faktor ideologi plus dibarengi balas dendam.
Gambaran yang menyedihkan bila kita tengok kembali atas dasar kriteria “layak digandrungi” tadi. Lebih memilukan, pelaku dan korban adalah saudara kita sendiri, yaitu sesama Muslim. Rasanya, akan tidak pas bila itu dikategorikan Jihad karena dasar Agama. Karena, Masjid serta ajaran salat jamaahnya, yang sejatinya –selain untuk beribadat- dapat mempersatukan sekaligus ajang silaturrahmi umat Islam, justru dijadikan “sarana yang tepat” untuk mengalirkan darah sesama Muslim.
Kita sadari bahwa konflik tersebut sudah berkepanjangan. Tak tahu, sampai kapan akan ada tanda berakhir. Titik buram tampak bakal menghiasi dari pada titik terang yang diharapkan. Benar anggapan bahwa dendam kesumat terkadang mengesampingkan kaidah-kaidah agama yang kita junjung.
Tentunya, peristiwa yang meresahkan itu diharapkan tidak banyak berpengaruh terhadap pelajar Indonesia di Pakistan, khususnya di Islamabad nan permai ini. Namun, tidak seyogyanya pula acuh tak acuh dengan kejadian di sekitar kita. Sebab antisipasi terhadap hal yang paling buruk sama sekali tidak ada salahnya. Bahkan itu dianjurkan. Mawas-diri ketika keluar adalah salah satu kunci utamanya.


