<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Asal Taroh</title>
	<atom:link href="http://edisain.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://edisain.wordpress.com</link>
	<description>Mau naruh apa aja, sini Anda bisa asal taruh susukanya</description>
	<lastBuildDate>Tue, 25 Sep 2007 19:33:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='edisain.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Asal Taroh</title>
		<link>http://edisain.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://edisain.wordpress.com/osd.xml" title="Asal Taroh" />
	<atom:link rel='hub' href='http://edisain.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Mungkin</title>
		<link>http://edisain.wordpress.com/2007/09/25/mungkin/</link>
		<comments>http://edisain.wordpress.com/2007/09/25/mungkin/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Sep 2007 18:12:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edipati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edisain.wordpress.com/2007/09/25/mungkin/</guid>
		<description><![CDATA[Dunia ini memang terasa aneh. Aneh karena sesuatu terkadang berjalan tidak sebagaimana mestinya. Sesuatu yang normal lazimnya tidak akan menimbulkan sejumlah pertanyaan dan jawaban. Hal itulah yang diharapkan karena dengan adanya pertanyaan dan jawaban akan menambah pekerjaan tersendiri kepada si pelakunya. Hukum &#8220;Sebab Akibat&#8221; (kausalitas) merupakan analogi dasar yang paling mudah untuk menggambarkan kenyataan ini. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edisain.wordpress.com&amp;blog=1790641&amp;post=6&amp;subd=edisain&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Dunia ini memang terasa aneh. Aneh karena sesuatu terkadang berjalan tidak sebagaimana mestinya. Sesuatu yang normal lazimnya tidak akan menimbulkan sejumlah pertanyaan dan jawaban. Hal itulah yang diharapkan karena dengan adanya pertanyaan dan jawaban akan menambah pekerjaan tersendiri kepada si pelakunya.</span><span id="more-6"></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Hukum &#8220;Sebab Akibat&#8221; (kausalitas) merupakan analogi dasar yang paling mudah untuk menggambarkan kenyataan ini. Seorang petani yang rajin dan peduli dengan tanaman padinya pasti akan menuai hasil panen sesuai dengan jerih payah yang telah ia lakukan. Begitu juga seorang siswa yang rajin dalam belajarnya tentu akan mendapat nilai dan ranking sejauh mana ia serius dalam belajar.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Dalam konteks sebuah negara, sudah menjadi tugas seorang Presiden mengurusi kemajuan negara dan bangsa yang ia pimpin. Sudah menjadi kewajibannya pula peduli dengan nasib rakyat kecil yang senantiasa kesulitan mengais rezeki demi mendapatkan sesuap nasi. Bukan hanya Presiden, pejabat tinggi negara yang lain tentunya harus ikut sadar. Mereka dipilih – baik jadi Menteri, Gubernur, Bupati sampai Kepala desa dan Ketua RT – supaya dapat memberikan secercah harapan sekaligus suritauladan kepada rakyat maupun bawahannya. Akibatnya adalah – kalau semua itu berjalan sesuai dengan tujuannya – bangsa yang berperadaban dan negara yang maju tidak akan menjadi harapan utopis belaka bagi rakyatnya.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Dalam konteks interaksi sosial pun dapat kita cermati hal yang serupa. Ketika ada dua orang yang telah lama menjalin hubungan bersahabat, tentu keduanya akan terus berusaha menjaga kelanggengan tali persahabatannya itu dan tidak ingin jika ada orang luar berusaha mengganggu keakraban yang mereka miliki. Keduanya pun tidak akan membiarkan jika ada pihak luar berusaha menyakiti atau merugikan sahabatnya itu. Sebenarnya, tidak hanya dalam lingkup persahabatan saja tapi terjadi pula dalam ikatan rasa yang berangkat dari kesamaan status sosial seperti sesama mahasiswa, rekan sekerja ataupun ikatan rasa dan sederita.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Intinya, dalam menjalani proses kehidupan ini memang – diakui maupun tidak – perlu pemahaman jenis baru tentang hukum kasualitas. Adalah konyol bila seseorang hanya berjalan begitu saja (acuh tak acuh) tanpa melihat tujuan dan akibat yang ada ada di hadapannya nanti. Meskipun konyol masih tidak terhitung orang tetap melakukannya. Tidak jarang sikap seseorang hanya mengalir seperti air dan tidak mau melihat ke arah manakah aliran itu bermuara? </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Manusia, di muka Bumi ini, adalah sebaik-baiknya ciptaan Tuhan karena dengan kelebihan akal dan pengindraannya mampu memposisikan statusnya di atas segala penghuni Bumi yang lain. Namun yang aneh masih banyak pemandangan di sekitar kita kurang menunjukkan apa yang diharapkan. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Pergantian pemimpin yang berulang-ulang dan pelantikan sejumlah pejabat tinggi negara dalam susunan Kabinet belum juga memberi jawaban atas nasib rakyat ini. Rakyat tetap mengerang kesakitan dan petinggi-petinggi negara tetap asyik-masyuk dengan urusannya sendiri. Yang lebih parah lagi mereka berusaha menghambur-hamburkan uang negara tanpa ada suatu tujuan yang jelas. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Keteladanan seorang pemimpin mestinya dapat kita ambil dari sikap yang diperlihatkan Ketua MPR RI kita, DR. Hidayat Nur Wahid yang tidak berkehendak menikmati fasilitas negara berupa mobil Sedan jenis Volvo yang mewah nan nyaman. Sulit rasanya mencari pemimpin yang mau dan hirau dengan nasib dan rasa yang dialami oleh rakyat seperti ini. Presiden kita, SBY, dalam agenda kenegaraannya, pun akan mengurangi kunjungan-kunjungan ke luar negeri kecuali dengan agenda negara yang mendesak dan dirasa penting. Sikap-sikap seperti inilah yang mesti ditumbuh-suburkan dalam kehidupan pejabat negara kita yang masih (terlihat) langka. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sekali lagi, realita dan pemandangan di sekitar kita berkata lain. Kepedulian (rasa) seorang pemimpin -<span>  </span>seperti sikap Presiden  RI dan Ketua MPR kita di atas – masih sulit diketemukan dan dirasakan. Hubungan saudara antara sesama Muslim sendiri tercabik-cabik karena sebuah kepentingan. Sesama rekan rela mengorbankan dan acuh tak acuh dengan nasib rekannya sendiri yang kebetulan sedang menghadapi kesulitan. Mereka cenderung diam dan bungkam seribu kata tatkala melihat nasib kawannya dipermainkan sang penguasa. Hanya berhutang jasa sedikit – dan kurang mendasar – mereka malu bersuara apalagi bersengketa, sekali lagi hanya karena sebuah kepentingan yang sifatnya sepihak semata. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Fenomena di atas merupakan pemandangan yang tidak mengherankan lagi di tengah kemajemukan masyarakat Indonesia. Dus, sangat penting menyadari bahwa Hukum Kasualitas telah menggambarkan itu semua. Terjadinya protes keras dari rakyat -yang merasa dikebiri haknya, ketidak-harmonisan dalam interaksi sosial antara sesama Muslim, putusnya tali persahabatan dan pertemanan dan masih banyak lagi contoh yang dapat kita saksikan. Semua itu tentunya adalah akibat dari sebab yang telah mendahuluinya.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Entah apakah itu adalah penyakit yang mewabah dalam kehidupan masyarakat kita bahwa perlakuan yang lalim dan merugikan orang lain dianggap sebagai hal yang lumrah terjadi dan biasa-biasa saja?<span>  </span>Atau sekarang memang sulit mencari orang yang peduli dengan nasib sesamanya? Atau sekarang adalah zamannya peduli dengan nasib perutnya sendiri dan salah jika &#8220;mengelus&#8221; nasib perut orang lain? Dan atau – ini rasanya tidak (tetapi juga) mungkin &#8211; itu merupakan sikap kukuh dalam mempertahankan prinsipnya masing-masing, meski sejatinya adalah &#8216;salah-kaprah&#8217;? Jawabannya adalah singkat: Semua itu &#8220;mungkin&#8221;. </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/edisain.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/edisain.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/edisain.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/edisain.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/edisain.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/edisain.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/edisain.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/edisain.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/edisain.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/edisain.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/edisain.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/edisain.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/edisain.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/edisain.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/edisain.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/edisain.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edisain.wordpress.com&amp;blog=1790641&amp;post=6&amp;subd=edisain&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edisain.wordpress.com/2007/09/25/mungkin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2d729afe9bc6852bbfdd23aaedbea7d0?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">edipati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belajar di Pakistan</title>
		<link>http://edisain.wordpress.com/2007/09/25/belajar-di-pakistan/</link>
		<comments>http://edisain.wordpress.com/2007/09/25/belajar-di-pakistan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Sep 2007 18:08:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edipati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islamabad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edisain.wordpress.com/2007/09/25/belajar-di-pakistan/</guid>
		<description><![CDATA[Belajar di luar negeri termasuk hal yang membanggakan. Termasuk di Negeri Ali Jinnah ini. Tentunya, tidak karena Pakistan adalah negara bernuklir, tapi, selain suasana belajar memang mendukung, juga penguasaan dua Bahasa Arab dan Inggris membuatnya jadi pilihan dari banyak kalangan.  Belajar di luar negeri, tidak hanya di Pakistan, akan sangat lebih digandrungi bila keadaan alam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edisain.wordpress.com&amp;blog=1790641&amp;post=5&amp;subd=edisain&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Belajar di luar negeri termasuk hal yang membanggakan. Termasuk di Negeri Ali Jinnah ini. Tentunya, tidak karena Pakistan adalah negara bernuklir, tapi, selain suasana belajar memang mendukung, juga penguasaan dua Bahasa Arab dan Inggris membuatnya jadi pilihan dari banyak kalangan.</span><span id="more-5"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> Belajar di luar negeri, tidak hanya di Pakistan, akan sangat lebih digandrungi bila keadaan alam sekitar juga bersahabat. Terjaminnya keamanan, bersihnya lingkungan, tidak adanya konflik horizontal serta terjaganya relasi yang baik antara pendatang (<em>foreigner)</em> dengan penduduk pribumi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> Namun sayang, Pakistan, untuk dikatakan telah memenuhi kriteria “layak digandrungi” tadi –berdasarkan syarat di atas– rasanya masih dipertanyakan. Yang paling mencolok adalah masih rentannya konflik horizontal antara penduduk lokal yang kerap kita temui.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> Pada 27 Mei lalu, di tempat yang (konon) dikeramatkan, Bari Imam, kita dengar <em>suicide blast</em> yang menewaskan setidaknya 20 orang –ada yang mengatakan lebih- dan menyebabkan sekitar 100 orang luka-luka. Juga di Karachi, belum lama ini terjadi pembakaran toko KFC yang menyisakan 7 orang meninggal. Selain itu, tak terhitung kejadian serupa masih menghiasi negeri perantauan ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> Motif kejadian tersebut pun berlainan. Politik, ekonomi, balas dendam dst. Namun, yang paling kerap kita saksikan adalah faktor ideologi plus dibarengi balas dendam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> Gambaran yang menyedihkan bila kita tengok kembali atas dasar kriteria “layak digandrungi” tadi. Lebih memilukan, pelaku dan korban adalah saudara kita sendiri, yaitu sesama Muslim. Rasanya, akan tidak pas bila itu dikategorikan Jihad karena dasar Agama. Karena, Masjid serta ajaran salat jamaahnya, yang sejatinya –selain untuk beribadat- dapat mempersatukan sekaligus ajang silaturrahmi umat Islam, justru dijadikan “sarana yang tepat” untuk mengalirkan darah sesama Muslim.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> Kita sadari bahwa konflik tersebut sudah berkepanjangan. Tak tahu, sampai kapan akan ada tanda berakhir. Titik buram tampak bakal menghiasi dari pada titik terang yang diharapkan. Benar anggapan bahwa dendam kesumat terkadang mengesampingkan kaidah-kaidah agama yang kita junjung. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> Tentunya, peristiwa yang meresahkan itu diharapkan tidak banyak berpengaruh terhadap pelajar Indonesia di Pakistan, khususnya di Islamabad nan permai ini. Namun, tidak seyogyanya pula acuh tak acuh dengan kejadian di sekitar kita. Sebab antisipasi terhadap hal yang paling buruk sama sekali tidak ada salahnya. Bahkan itu dianjurkan. Mawas-diri ketika keluar adalah salah satu kunci utamanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/edisain.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/edisain.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/edisain.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/edisain.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/edisain.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/edisain.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/edisain.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/edisain.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/edisain.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/edisain.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/edisain.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/edisain.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/edisain.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/edisain.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/edisain.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/edisain.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edisain.wordpress.com&amp;blog=1790641&amp;post=5&amp;subd=edisain&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edisain.wordpress.com/2007/09/25/belajar-di-pakistan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2d729afe9bc6852bbfdd23aaedbea7d0?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">edipati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Negara Tertawa Dalam &#8220;Organic Theory&#8221;</title>
		<link>http://edisain.wordpress.com/2007/09/25/negara-tertawa-dalam-organi-theory/</link>
		<comments>http://edisain.wordpress.com/2007/09/25/negara-tertawa-dalam-organi-theory/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Sep 2007 17:49:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edipati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edisain.wordpress.com/2007/09/25/negara-tertawa-dalam-organi-theory/</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu sifat yang lazim dimiliki manusia adalah tertawa. Entah itu merupakan qodrat manusia atau bukan itulah ketawa, yang tidak bisa dipisahkan dari manusia. Kecuali sikap rasul yang konon selama masa hidup beliau tidak pernah melakukannya kecuali hanya tersenyum dalam mengekspresikan kebahagiaannya. Tertawa seseorang mempunyai banyak ekspresi yang berbeda-beda. Adakalanya seseorang tertawa dengan suara yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edisain.wordpress.com&amp;blog=1790641&amp;post=4&amp;subd=edisain&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Salah satu sifat yang lazim dimiliki manusia adalah tertawa. Entah itu merupakan qodrat manusia atau bukan itulah ketawa,<span>  </span>yang tidak bisa dipisahkan dari<span>  </span>manusia. Kecuali sikap rasul yang konon selama masa hidup beliau tidak pernah melakukannya kecuali hanya tersenyum dalam mengekspresikan kebahagiaannya.</span><span id="more-4"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Tertawa seseorang mempunyai banyak ekspresi yang berbeda-beda. Adakalanya seseorang tertawa dengan suara yang keras dan menggatalkan telinga. Ada yang hanya dengan suara lirih. Tertawa seperti itu biasanya dikategorikan dengan tertawanya seorang perempuan. Tertawa memang memiliki aneka ragam, layaknya keanekaragaman dalam masalah sosial, politik, maupun budaya. Demikian pula dengan perihal ‘tertawa’ ini. Masing-masing punya variasi sendiri-sendiri. Seperti halnya menangis, yang mempunyai dua arti kontradiktif. Dalam artian adakalanya yang bermakna “bahagia” dan ada pula berarti sebaliknya. Keadaan itu dapat dibedakan menurut<span>  </span>konteks perjalanan yang dialami masing-masing pelakunya. Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa tertawa –yang sangat bergantung pada konteks yang melatar belakanginya- mempunyai interpretasi yang bermacam-macam. Namun demikian, tertawa LAZIMYA adalah untuk menunjukan suatu perasaan bahagia dan menangis adalah refleksi dari gambaran perasaan sedih. </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Di sini, penulis ingin menarik benang merah mengenai korelasi benar tidaknya<span>  </span>teori yang menganalogikan sebuah &#8216;negara&#8217; dengan kondisi &#8216;makhluk hidup&#8217; di alam ini, teori tersebut menjelaskan beberapa kesamaan struktur, fungsi dan transisi atau evolusi yang dimiliki keduanya (negara dan organisme). Kalau memang itu benar adanya, sudah barang tentu keduanya memliki pula kesamaan sifat yang dialaminya. Seperti halnya manusia yang tidak lepas dengan ungkapan rasa sedih, murung, dan tertawa itu sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Teori itu banyak diterapkan oleh banyak ahli filsafat Yunani -penulis abad pertengahan- dan beberapa pemikir modern. Salah satunya adalah Plato yang mempunyai persepsi mengenai substansi sebuah negara, dimana dia tidak membedakan antara negara dengan individu. Dan masih banyak lagi filsof lain dengan anggapan yang sama. Dalam hal ini, penulis menilik teori Herbert Spencer asal Inggris dalam bukunya <em>Principles of Sociology 1880 </em>(Mazher ul Haque, Political Science: Theory and Practice, 1998)<em> </em>yang dengan detail menggambarkan teorinya<span>  </span>dan dikenal dengan “<em>Organic Theory”. </em>Intinya adalah<span>  </span>mengenai <em>“the nature of the state”</em>. Dalam teorinya, dia menggambarkan bahwa negara –dengan dinamika dan problematika yang dihadapi- mempunyai banyak kemiripan dengan makhluk hidup, yaitu :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> <span>1.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Keduanya terdiri dari beberapa sel <em>(composed of the cells).</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Ketika makhluk hidup mempunyai sel, maka hal itu juga berlaku untuk sebuah negara yang berselkan manusia atau rakyat yang menghuninya. Persamaannya ialah, keduanya merupakan komponen penting yang tidak dapat terpisahkan demi kelangsungan hidupnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> <span>2.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kesamaan dalam berkembang <em>(parallelism in growth and development).</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Seperti halnya makhluk hidup, negara berkembang<span>  </span>dan mengalami improvisasi dalam perjalanannya. Sehingga pada mulanya ketika makhluk hidup baru lahir, dia lahir dalam kondisi yang lemah dan belum mempunyai langkah yang produktif dan efisien. Adapun negara, dia pada mulanya juga mengalami kondisi yang serupa. Yakni,<span>  </span>mengalami masa yang serba sulit (yang biasa disebut zaman primitif) sampai pada akhirnya mengalami kemajuan yang luar biasa dengan kurun waktu yang tidak begitu singkat. Itulah<span>  </span>manusia, yang<span>  </span>akhirnya mampu menemukan cara hidup yang lebih mapan dan nyaman.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span></span>3. Interdependensi pada setiap bagian<span>  </span><em>(functional inter-dependence of the parts).</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Jadi, negara tidak akan dapat survive mempertahankan kelangsungan hidupnya ketika salah satu dari bagian tubuhya tidak berfungsi secara optimal. Artinya adalah, pelaksana kebijakan negara (presiden beserta seluruh kabinetnya) yang ditangannya berputarnya roda pemerintahan tidak dapat bekerjasama satu dengan yang lain. Begitu juga mahluk hidup yang lain. Kelangsungan hidupnya sangat bergantung pada masing-masing organ tubuhnya yang berfungsi dengan baik. Oleh karenanya, adalah gerakan kolektif dari seluruh kabinet yang sangat diperlukan, hal itu untuk menghindari kelesuan dan mandegnya roda pemerintahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> <span>          </span>4. Kesamaan struktur <em>(structural parallelism).</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Makhluk hidup yang mempunyai tiga proses paralel, meliputi: 1) Proses untuk kelangsungan hidup, yaitu mulut, perut, usus-usus dan seterusnya sampai akhirnya pada pencernaan. 2) Sistem distribusi. Yaitu jantung, syaraf, hati dan seterusnya yang mengatur sirkulasi darah ke seluruh tubuh, dan 3) Sistem regulasi, yaitu sistem pengaturan di seluruh tubuh yang di sini artinya adalah pembagian vitamin, karbohidrat, protein dan sebagainya, sesuai dengan kebutuhan setiap organ tubuh itu sendiri. Untuk suatu negara, dia mempunyai <em>sustaining system </em>pula, yaitu 1) Sistem produksi yang direalisasikan lewat pertanian dan perindustrian. 2) Sistem distribusi yang diaktualisasikan melalui transpostasi dan komunikasi, dan 3) Sistem regulasi, inilah yang dikategorikan sebagai sistem manajemen atau pemerintahan dalam suatu negara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> <span>5.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tumbuh berkembang biak dan mati <em>(the wear and tear and the renewal ).</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Seperti halnya makhluk hidup, yang tumbuh dan lahir dari masa kecil atau masa lemahnya. Setelah itu beranjak dewasa dengan segenap kekuatannya sehingga<span>  </span>mampu mencari apa saja untuk memenuhi dan melestarikan masa hidupnya.<span>  </span>Dia juga tahu akan adanya generasi berikutnya sebagai pengganti hari tuanya. Keadaan seperti ini adalah sama persis dengan keadaan suatu negara,<span>  </span>yang pada mulanya mengalami masa keterpurukan dan kemunduran. Tetapi,<span>  </span>dengan berjalannya waktu,<span>  </span>negara tersebut akan mengalami proliferasi dalam segala bidang atau yang biasa di sebut era transisi. Maksudnya ialah<span>  </span>adanya perubahan demi perubahan untuk mengarah pada suatu kemajuan yang dapat diumpamakan seperti lahirnya bayi yang tumbuh besar, dan bayi itulah yang akhirnya mempunyai julukan sebagai generasi bangsa. Dan setelah itu, menurut tabiatnya, akan mengalami kemunduranan, kelemahan dan (mungkin) kepunahan, entah itu disebabkan oleh faktor internal, seperti makin bertambahnya umur, sakit, atau yang lagi heboh sekarang terjangkit virus SARS, maupun eksternal seperti korban pembunuhan, perampokan, pemerkosan dll. Untuk suatu negara, faktor internal bisa meliputi kerusakan yang muncul dalam negara itu sendiri, seperti kebejatan moral dan akhlaq suatu bangsa, pemimpin yang dzalim, dll. Sedangkan faktor eksternal, salah satunya seperti kebijakan luar negeri yang mempengaruhi stabilitas ekonomi dan<span>  </span>politik suatu negara tertentu, atau yang kebetulan sekarang terjadi adalah invasi yang dilakukan dari pihak luar: agresi militer Amerika ke Irak, dll.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Konklusinya, negara diibaratkan seperti makhluk hidup.<span>  </span>Ia membutuhkan minum dan istirahat dengan teratur plus cukup.<span>  </span>Dalam konteks ini,<span>  </span>negara adalah memperoleh supply sesuai dengan yang dibutuhkannya. Yaitu sirkulasi dana pada tempatnya, pembagian anggaran negara sesuai ketentuan-ketentuan yang di tetapkan. Co-eksistensi satu bagian dengan bagian yang lain adalah istilahnya. Jadi, dalam kinerjanya, dibutuhkan<span>  </span>kerjasama kolektif yang efisien dan effektif dalam tiap-tiap jajaran. Dalam hal ini,<span>  </span>penulis analogikan dengan sistem<span>  </span>kabinet. Dengan demikian, negara hampir sama persis dengan keadaan tubuh manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Terlepas benar tidaknya teori tersebut –untuk tidak mengatakan bahwa penulis seratus persen membenarkan teori tersebut- memang rasanya perumpamaan antara manusia dengan negara hampir mendekati kesamaan dan kemiripan dengan kondisi alam di jagad raya ini. Yakni, dari pra-Islam atau masa jahiliyah sampai pasca-kegemilangan Islam pada zaman Abbasyiah (baca: Khalifah Harun al-Rashid) dan bahkan sampai pada masa sekarang. Secara khusus, perjalanan Islam berkembang sesuai dengan berputarnya waktu, pasang maupun surut.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Mengenai teori tersebut diatas, terdetik di benak penulis bahwa dalam sekian teor penyamaan yang di lontarkan Herbert Spencer,<span>  </span>rasanya ada satu kesamaan yang belum dijelaskan.<span>  </span>Yaitu <em>&#8220;similarities of habit and desire&#8221;, </em>kesamaan watak dan keinginan<em> </em>yang lazim dimiliki oleh setiap makluk hidup,<span>  </span>hewan maupun manusia. Contohnya, ketika sesorang mengalami suatu halangan atau kendala dalam hidupnya sudah pasti responnya dia akan merasa sedih, resah, gundah dan bahkan (mungkin) akan menangis. Begitupun sebaliknya ketika dia mengalami suatu kesuksesan dan kepuasan dalam dirinya, pasti akan bahagia yang mungkin direfleksikan dengan muka yang berseri-seri, perasaan girang, ceria ataupun dengan tertawa. Dalam segi “keinginan”, sudah semestinya setiap makhluk hidup akan berusaha untuk merealisasikan kehendak dan kenginanya yang bermuara pada pemuasan diri atau dalam rangka memenuhi kebutuhan yang lebih nyaman dan berarti. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Amatlah sama dengan negara yang dalam konsepnya bertujuan untuk mencapai dan mengatur segala tuntutan hidup selaras dengan tabiat manusia (on the natural sense) meliputi keamanan, kelangsungan hidup yang tentram, kemakmuran, ketenangan, ke<em>gemahripah-loh-jinawihan,</em></span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> keadilan, kesama</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">a</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">n dan seterusnya.<span>  </span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">J</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">elasnya, semuanya itu adalah tujuan daripada mendirikan suatu negara. Demikian pula korelasinya dengan watak yang dimiliki oleh negara. Refleksi bahagia, sedih dan muramnya<span>  </span>adalah tergantung pada kadar pencapaian maksud dan kehendak yang gariskan. Ketika negara tidak lagi sanggup mengatasi krisis yang menerpa bangsa (inability), ketika kebijakan suatu<span>  </span>negara tidak sesuai dengan aspirasi rakyat, ketika keadilan tidak dapat ditegakan (injustice), ketika di mana-mana terjadi ketimpangan dan kecemburuan sosial (social division), ketika keamanan rakyat terganggu (instability), ketika dan ketika………. , maka refleksi yang tercermin pada raut muka negara itu adalah konsekwensi kesedihan yang tengah ia tanggung. Kesedihan itu terpancar dari misalnya, kemiskinan yang merajalela, ketidaktentraman dalam hidup bersama, hampanya rasa kegotong-royongan, saling melempar kesalahan, </span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">korupsi, </span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">kemunduran ekonomi, sosial-budaya, terjadinya hukum rimba (rule of jungle) dst.</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Disisi lain, dapatkah negara tersebut merampungkan segala agenda kenegaraannya, sudah terlihatkah pembangunan yang merata dan berarti untuk rakyatnya.</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Inilah yang lazim disebut ekspresi </span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">bahagia dari sebuah negara. Itulah</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> sedikit gambaran mengenai watak dan keinginan suatu negara sekaligus sebagai sebuah refleksi yang ia punyai. Jadi, penambahan yang ingin penulis berikan adalah bahwa<span>  </span>negara juga mempunyai </span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">&#8220;</span></em><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">similarity of expression</span></em><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">&#8220;</span></em><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">ketika sedang dilanda rasa sedih dan bahagia. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Oleh karena itu, masing-masing kita sekarang dapat mengetahui dan menyadari bahwa bangsa Indonesia khususnya</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">, dan seluruh umat islam didunia umumnya, </span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">telah atau sedang memperlihatkan raut muka yang sebenarnya. Kita pun sah-sah saja untuk mengukur atau memberikan penilaian, apakah raut muka bangsa kita tengah<span>  </span>terlihat sakit, murung ataupun pucat?</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Sesuai dengan teori organic tadi, kitapun dapat menyimpulkan secara sekilas dalam tahap apakah kondisi negara kita sekarang ini (dan sekaligus masa yang akan datang). Dan apakah benar, kita merupakan bagian darinya yang merupakan komponen yang tak bisa terpisahkan dari negara.<span>  </span>Semua itu terlihat dari seberapa peranan dan kontribusi masing-masing untuk negara itu sendiri. Wallahu a`lamu bisshawaaaab.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/edisain.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/edisain.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/edisain.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/edisain.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/edisain.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/edisain.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/edisain.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/edisain.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/edisain.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/edisain.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/edisain.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/edisain.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/edisain.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/edisain.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/edisain.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/edisain.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edisain.wordpress.com&amp;blog=1790641&amp;post=4&amp;subd=edisain&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edisain.wordpress.com/2007/09/25/negara-tertawa-dalam-organi-theory/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2d729afe9bc6852bbfdd23aaedbea7d0?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">edipati</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
